By: ABDUL AZIM BIN ABD JAMIL

Kehidupan dunia mengajar erti kita dijadikan di muka bumi Allah ini.Terkadang kehidupan dunia ini membuatkan kita lupa dan leka tentang hakikat untuk apa kita ada, untuk apa Allah menciptakan kita.Kehidupan di dunia menjadi satu ladang untuk kita menanam hasil agar dapat dituai semasa di akhirat kelak.Allah menciptakan kehidupan ini sebagai satu medan untuk menguji manusia dan sudah pasti kehidupan ini menjadi tempat persingahan sementara manusia sebelum berangkat ke alam barzakh dan perkampungan akhirat seterusnya.

Mangapa dan untuk apa kita ada?
Pernahkah kita berfikir untuk apa kita ada? Mengapa kita hidup di dunia ini? Apakah dengan keinginan dan rencana kita sehingga kita ada ?.Pasti tidak kerana mustahil untuk kita merencanakan keinginan sedangkan kita belum dilahirkan.Oleh itu, adakah kerana keinginan dan rencana dari kedua ibu bapa yang kita cintai? . Sudah pasti juga tidak kerana berapa banyak suami isteri yang mengiginkan zuriat tetapi masih belum dikurniakannya.Jadi, adanya kita bukan atas kehendak kita malah bukan juga atas kehendak ibu bapa kita,lantas atas kehendak siapa?.

Allah merakamkan sepotong ayat di dalam Al-quran:

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setitis mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai usia sangat tua, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya” (Al-Hajj: 5)

Ya, adanya kita malah makhluk lain adalah atas kehendak Allah yang Maha Pencipta.

Kehidupan di dunia adalah ujian untuk kita.Allah pasti akan menguji amalan manusia sepanjang hidupnya.Mengapa Allah tidak menyatakan yang paling banyak amalannya tetapi Allah menyatakan yang paling baik amalannya.Sudah pasti kita mengetahui bahawa yang baik amalannya adalah mereka yang melakukan dengan ikhlas tanpa mengharapkan balasan dunia.

Kemana selepas ini?

Seringkali kita lupa dan alpa tentang tujuan dan matlamat hidup di dunia.Bersuka ria dan berfoya-foya telah menjadi matlamat hidup kehidupan sesetengah daripada kita.Bagi mengigatkan kembali kenapa kita hidup di dunia ini,saya bawakan hadith tentang syurga dan neraka.

Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Syurga dan neraka telah diperlihatkan kepadaku, maka aku belum pernah memandang hari yang lebih banyak mengandung kebaikan sekaligus keburukan daripada hari ini. Kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis” Anas bin Malik melanjutkan, “Tidak ada hari setelah itu yang lebih berat bagi para Sahabat dibandingkan dengan hari tersebut. Pada hari itu, mereka semua menutup kepalanya sambil terisak-isak karena tangisan” (HR Bukhari dan Muslim)

Bagaimana sahabatku sekalian?Adakah hati kita tidak tergetar membaca hadith diatas?Kalau seandainya tidak,maka kita lah orang yang patut dikasihi.Kenapa kita perlu dikasihi?. Para sahabat yang jiwa, raga dan hartanya telah mereka curahkan untuk membela dan memperjuangkan Islam, dengan ketakwaannya mereka adalah manusia yang sangat takut kalau-kalau akhir kehidupan mereka di neraka.Sahabat Rasulullah jelas telah meletakkan matlamat kehidupan mereka di dunia ini hanya untuk mengabdikan diri kepada Allah.Persoalannya terletak pada diri kita bagaimana kita merencanakan matlamat kehidupan kita ini.

Kembara sang hamba.

Bayangkan jika kita dalam sebuah perjalanan untuk menuju suatu pulau. Kemudian dalam perjalanan melewati sebuah pulau kecil, nahkoda memerintahkan agar para penumpang singgah 3 hari untuk mengumpulkan bekal berupa makanan dan minuman. Kemudian kita masuk hutan untuk mengumpulkan bekal. Setiap penumpang bertanggung jawab masing-masing dan tidak dapat saling berkongsi bekal. Semuanya memikirkan keselamatan masing-masing karena begitu berat perjalanan bahkan seorang bapak tidak mungkin mahu berkongsi bekal dengan istri dan anak-anaknya, seorang ibu juga tidak akan mahu berkongsi bekal kepada anaknya, masing-masing sangat memerlukan bekal tersebut untuk keselamatannya.

Apa yang akan kita lakukan dalam 3 hari tersebut? Tentu kita akan memanfaatkan waktu yang hanya 3 hari untuk mencari makanan, mencari buah-buahan dan air segar untuk bekal perjalanan kerana perjalanan masih jauh. Tetapi tidak semua seperti itu sahabatku, banyak diantara mereka malah bersenang-senang di pulau kecil tersebut, membuat rumah bahkan bertingkat-tingkat, bersenang-senang sampai lupa bahawa mereka akan kembali melanjutkan perjalanan sehingga harus mengumpulkan bekal yang cukup untuk sampai ke pulau kampung asal mereka. Ketika nahkoda mengumumkan agar semua penumpang naik ke kapal karena perjalanan akan dilanjutkan, apa yang terjadi?

Sebagian penumpang mengumpulkan bekal yang cukup, sebagian hanya sedikit saja, dan sebagian lagi lupa untuk pulang ke kampung halaman-mereka malah bersenang-senang di pulau tersebut, membuat rumah bertingkat, membuat sawah yang luas, berternak binatang dan lain sebagainya. Orang yang mengumpulkan bekal cukup maka akan sampai ke kampung asal dengan selamat, orang yang mengumpulkan bekal sedikit akan bersakit-sakitan di perjalanan bahkan boleh jadi meninggal dunia, adapun orang yang lupa akan perjalanan akan tinggal dipulau kecil tersebut dan tidak akan pernah kembali ke kampung asalnya. Kemudian tersiar khabar bahwa Pulau kecil tersebut ternyata pada hari ke 7 sudah hilang tersapu tsunami!

Hakikatnya kita semua adalah perantau, kita hanya singgah sebentar di dunia ini. Ingatlah saudaraku, kampung halaman kita adalah di Syurga, nenek moyang kita asalnya tinggal di surga. Bukankah Adam ‘alaihissalam asalnya tinggal di syurga? Kalau kita tidak dapat pulang ke syurga, bererti kita telah terlena seperti penumpang yang bersenang-senang dipulau kecil tersebut.

Agar kita tidak tersesat, agar kita dapat pulang ke kampung halaman-yakni ke Syurga, maka ekita harus mempelajari agama ini dengan serius. Untuk urusan kuliah saja kita dapat serius, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana tercurahkan untuk kuliah? Sekarang, berapa banyak waktu, fikiran, tenaga dan dana untuk menuntut ilmu syar’i yang telah kita curahkan

Jalan petunjuk telah jelas, dan jalan kesesatan juga jelas. Saya yakin bahwa kita akan mengikuti jalan petunjuk, mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya. Kita tidak akan mahu terlena seperti penumpang yang bersenang-senang di pulau kecil itu.Jangan sampai kita memohon ketika ajal menjemput, pada saat meregang nyawa kemudian kita memohon kepada Allah

(maksud)
Kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan (Al-Mu’minun :100)

Dan saat itu, keinginanmu tidak pernah akan dikabulkan !

HENTIAN MANAKAH KITA TUJU?
%d bloggers like this: